Selasa, 04 Februari 2014

Keharusan Mencari Sepi


13 Januari 2011 pukul 13:44

Rasa itu begitu syahdu mengelus-elus seloroh keharusan mencari sepi.
Dalam rongga abu-abu yang berbingkai merah jambu.
Berkedut, berkerut bisa mengembang lalu kembali mengatup.
Tapi punya daya fleksibilitas tertentu untuk mencipta sebuah karya. 
Maha karya.

Lantas kau berlari, bergegas dan tak mau menunda lagi.
Biar di sudut, di balik bilik yang dianyam tangan-tangan terampil.
Anyaman horizon-vertikal serupa kokon yang dipintal.

Mengindahkan setiap cibiran, menghalau setiap seruan yang mengalihkan.
Itu demi sebuah hasrat yang ingin dicapai. 
Sebuah pencapaian kelegaan desakan yang mampat tersumbat.
Karena kau dalam urusanmu sendiri, yang tidak perlu orang lain mencampuri, 
hingga tak usah diumbar sesumbar.

Terkadang pada saat yang sama sesuatu itu datang. 
Tanpa mengetuk pintu dulu, malah berdendang senada riak kecil-kecil, 
berputar-putar pada lingkaran secepat air bilasan.
Kemudian hilang, muncul lagi terkadang. 
Begitu kebolehjadian memang.

Dan kau cuma butuh wadah menengadah.
Sekadar Lingga yang mencerna biji-biji ragam bentuk dalam yoni.

Lekas..
Tuntaskan..
Kenakan lagi yang tadi ditanggalkan.
Karena waktu kembali bergulir dalam jeda yang tak lama kau tinggalkan.
Karena masih ada babak menunggu kau perankan.


Setelah di Jamban..


Dan Lele-lele bersorak-sorai
biar
tak usah kau hiraukan.

Berguru ke Pulau Buru


11 Desember 2009 pukul 23:20

Mengingat kembali Perjalanan ke Pulau Buru, 15-22 November 2009


Sebuah kesempatan mengajakku serta.
Hadiah ulang tahunku yang ke dua puluh tiga.

Kapal cepat merapat di Pelabuhan Namlea, dan pintu Pulau Buru dibuka.
Aku datang, aku memenuhi undangan.
Ke tempat dimana Pramoedya Ananta Toer dipaksa asing, di tempat Tetralogi Bumi.
Manusia dan sekawannya bunting, kemudian lahir.

Tapi bukan untuk itu, bukan untuk study tour bertema Pramoedya Ananta Toer
karena aku pikir sebentuk spirit tidak perlu dibuat sama bagi manusia, meski hidup di bumi yang sama juga.


Lantas jalanku lurus, membelok menembus
disuguhkan pohon-pohon kayu putih dan garis-garis pantai yang bersih.

Lihat... 
Nampak mataku tatap sederet kampung berjajar merisih.
Tapi maaf, aku cuma menumpang lewat dan berjalan masih.

Kiranya seperti itu, mohon dimengerti
karena hal lain menungguku untuk menjamu, memberi tempat buatku duduk dan menyimak guru.

Sampai sudah... 
Dalam sebuah ruang berbilik papan yang disusun bukan tegak, aku sedikit mendongak.
Merapat, meratap pada satu bagian hari yang menjadi rutin bagi Ibu Guru menulis.
Itu bukan papan tulis tapi balik pintu yang punya bait, yang punya suara dalam keterasingannya saat mereka yang masuk lalu membuka.
Bait terjepit...

Spirit... 
Ya, ini spirit...  
Spirit bagi mereka yang jauh, sengaja menjauh atau dijauhkan karena keadaan.

Maka Manusia Bumi di Bumi Manusia bicara:

*) " Kutitip langkah dan kakiku, yang begitu jauh dari kedua orang tuaku, yang kutinggalkan selama diperantauan"  (Mirlon, 28 Mei 2008).

===


Bahkan aku tidak mengenal Mirlon, aku tidak pernah bertemu Mirlon.
Sayang, sampai aku benar-benar pulang.

Terima kasih Mirlon...
Terima kasih Pulau Buru...
Karena aku sudah belajar sesuatu.


*)  " Ku pergi karna tugas namun aku pulang karna rindu" (Mirlon).

===


Note: *) adalah tulisan yang dibuat Mirlon di dinding papan belakang pintu