Selasa, 04 Februari 2014

Berguru ke Pulau Buru


11 Desember 2009 pukul 23:20

Mengingat kembali Perjalanan ke Pulau Buru, 15-22 November 2009


Sebuah kesempatan mengajakku serta.
Hadiah ulang tahunku yang ke dua puluh tiga.

Kapal cepat merapat di Pelabuhan Namlea, dan pintu Pulau Buru dibuka.
Aku datang, aku memenuhi undangan.
Ke tempat dimana Pramoedya Ananta Toer dipaksa asing, di tempat Tetralogi Bumi.
Manusia dan sekawannya bunting, kemudian lahir.

Tapi bukan untuk itu, bukan untuk study tour bertema Pramoedya Ananta Toer
karena aku pikir sebentuk spirit tidak perlu dibuat sama bagi manusia, meski hidup di bumi yang sama juga.


Lantas jalanku lurus, membelok menembus
disuguhkan pohon-pohon kayu putih dan garis-garis pantai yang bersih.

Lihat... 
Nampak mataku tatap sederet kampung berjajar merisih.
Tapi maaf, aku cuma menumpang lewat dan berjalan masih.

Kiranya seperti itu, mohon dimengerti
karena hal lain menungguku untuk menjamu, memberi tempat buatku duduk dan menyimak guru.

Sampai sudah... 
Dalam sebuah ruang berbilik papan yang disusun bukan tegak, aku sedikit mendongak.
Merapat, meratap pada satu bagian hari yang menjadi rutin bagi Ibu Guru menulis.
Itu bukan papan tulis tapi balik pintu yang punya bait, yang punya suara dalam keterasingannya saat mereka yang masuk lalu membuka.
Bait terjepit...

Spirit... 
Ya, ini spirit...  
Spirit bagi mereka yang jauh, sengaja menjauh atau dijauhkan karena keadaan.

Maka Manusia Bumi di Bumi Manusia bicara:

*) " Kutitip langkah dan kakiku, yang begitu jauh dari kedua orang tuaku, yang kutinggalkan selama diperantauan"  (Mirlon, 28 Mei 2008).

===


Bahkan aku tidak mengenal Mirlon, aku tidak pernah bertemu Mirlon.
Sayang, sampai aku benar-benar pulang.

Terima kasih Mirlon...
Terima kasih Pulau Buru...
Karena aku sudah belajar sesuatu.


*)  " Ku pergi karna tugas namun aku pulang karna rindu" (Mirlon).

===


Note: *) adalah tulisan yang dibuat Mirlon di dinding papan belakang pintu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar